Bersama Tuhan Selalu Manise

Banjir sempat melanda Jakarta dengan hebatnya pada awal tahun 2021. Ketika saya berangkat ke kantor, saya naik transportasi umum diiringi hujan deras di sepanjang jalan. Angkutan umum menerjang banjir yang cukup tinggi. Genangan air hujan berwarna coklat dari luar angkutan menyiprat ke pakaian saya. Saya mulai merasa kesal, “Wah hujannya deras banget. Angin badai kencang, terus ada kilat yang menyambar-nyambar di langit. Pasti aku basah kuyup kalau jalan kaki sampai ke kantor.” 
Hari itu saya mencari tempat berteduh setelah turun dari angkutan umum. Saya berjalan kaki sejauh 500 meter menggunakan payung dan jas hujan, tapi tetap saja baju dan celana saya basah kuyup. Banjir di area kantor saya setinggi mata kaki. Akibatnya, saya menggigil kedinginan selama di kantor. Angin AC mengeringkan pakaian saya. Saya mulai bersin-bersin. Hari itu bener-bener bad day.
Tiba-tiba saya memikirkan bagaimana nasib warga sekitar. Saya menanyakan keadaan sahabat saya yang tinggal di dekat kantor lewat chat. Rupanya rumah kak Santy dilanda banjir yang lebih parah. Rumahnya digenangi air sepinggang dan beberapa barang di rumahnya hanyut. Dia membagikan fotonya tersenyum sangat lebar dan mencari makanan ke warung terdekat sembari berpose dengan payungnya, “Aku seneng deh bisa main air. Terus dapet bantuan dari temen-temen. Hehe.” Aku berpikir kalau kak Santy hebat banget rumahnya kebanjiran, tapi masih bisa bersyukur dan ketawa-ketawa. Sementara aku yang basah kehujanan aja kesel banget. Dari situ aku belajar untuk bersyukur dalam segala situasi.
Beberapa bulan berlalu. Kabar duka dan kabar mencemaskan datang dari keluarga dan teman-teman. Aku juga sempat mengkhawatirkan tentang sepupuku yang harus bernapas dibantu oksigen, cicik ipar dan bayinya, cicikku dan keluarga besar yang terkena Covid-19. Sebenarnya yang lebih kukhawatirkan adalah keponakanku yang bayi dan balita. Menurutku orang dewasa lebih bisa menjaga diri dibandingkan balita, apalagi bayi. Belum lagi pada hari itu ada kabar kematian anak temanku yang berusia tiga tahun. Kabar tersebut semakin membuatku galau dan banyak pikiran berkecamuk di otakku.
Kemarin kak Santy bercerita bahwa dia dan bapaknya terkena Covid-19. Hal yang membuatku heran adalah dia dan bapaknya malah terlihat sangat bahagia di video call. Tidak kulihat sama sekali kecemasan. Kata kak Santy sambil ketawa terbahak-bahak dan memamerkan makanannya, “Di Wisma Atlet, aku bahagia banget deh. Banyak makanan dan cemilan. Jadi nggak kekurangan. Kalau di rumah kadang kami bingung makan apa. Hati yang gembira adalah obat. Di sini pemandangannya indah. Jadi aku merasa punya apartemen sendiri.” Wah, saat mendengarkan sharing nya aku langsung tertegun. Sungguh menginspirasi. Meskipun berada dalam kesulitan, kak Santy tetap bersyukur dan sukacita. 
Di balik setiap masalah, ada hikmah yang dapat kita pelajari untuk masa depan yang lebih baik. Aku belajar untuk berserah kepada Tuhan dan berusaha yang terbaik. Namun, hasil akhir dari doaku itu kuserahkan sesuai kehendak Tuhan saja. Belajar untuk bersyukur, bukannya ngomel-ngomel dalam menghadapi masalah. Kesulitan ada untuk dihadapi bersama Tuhan, bukan dihindari. Bersama Tuhan selalu manise. Semangat dalam Tuhan ya, rekan-rekan semua.
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4: 6-7, TB).


Komentar